Apa Yang Harus di Rasionalisasi?

(Foto: Tumblr)
Hari-hariku labil, sangat fluktuatif. Waktu tak pernah berhenti,
terus berputar se akan memancingku untuk berlari tergesa atau bahkan
sebaliknya, diam membiarkannya berlalu. Lari tergesa dan diam mematung,
adalah sesuatu yang kontradiktif dalam ruang dan waktu yang sama.
Benakku liar, khayalku melambung tinggi, pikirku sumpek dan
kontemplasiku jauh menukik ke bumi paling dalam. Tubuh ini tetap saja
diam tak bergeming. Jikalau melangkah terlambat dan jikalau berlari
terlewat.
Kuingin menuliskan sesuatu. Masalahnya, saya
tidak sedang patah hati, pula tak jatuh cinta. Tak ada pemandangan
indah, sesuatu yang unik, kisah menarik ataupun gadis manis yang
tersenyum kepadaku, yang kesemua kesan ini biasanya menjadi ledakan
inspirasi seorang penulis untuk memulai meramu indah karya tulisnya. Tak
juga ada tekanan traumatik, tuntutan intelektual, tugas-tugas kuliah
ataupun orderan artikel yang harus memaksaku menekan biji abjad, tanda
baca dan angka.
Intinya, aku tidak memiliki kesan empirik
ataupun suasana psikologis, baik yang indah ataupun buruk untuk
kujadikan alasan untuk menulis. Kosong, aku mendapati diriku terkulai
bimbang, benakku tak membersitkan secercah ide, tetapi sumpek dengan
sesuatu yang aku belum tahu apa yang sedang bergelayut di awan-awan
pikiranku. Suasana apakah ini, aku mulai bertanya pada diriku. Detik
demi detik pun terus berlalu, menyisahkan berbagai konflik intenal
diriku berkecamuk, bercampur antara perasaan bersalah dan rasionalisasi
pembelaan diri. Apa yang salah dan apa yang harus dirasionalisasi ?
Azan pun bergema, bersahut-sahutan, memanggil umat Allah untuk bersujud.
Enggan, tapi seolah ada yang menuntunku untuk segera mengambil air
wudhu. Mungkin aku harus bersuci, Membasuh telapak, mencuci muka,
mengusap tangan hingga siku. Yah, tangan. Tangan yang memiliki jemari
untuk membantuku menulis. Tangan ini pasti tidak bersih, walau kecil aku
tak akan berbohong bahwa ia pernah menghitung uang yang tidak jelas
asalnya. Tangan ini brengsek. Sungguh brengsek, ketika dulu di pantai itu, aku membelaimu, mengandeng tanganmu, (sst, aku tidak
sempat meraba. Walau aku ingin). Membisikkan kata cinta, dan kaupun
terpukau dengan mantra gombal mulut pembohong. Mulut ini juga harus
dibersihkan.
Sampailah air wudhu pada bahagian software tubuh ini. Kepala, tempat
dimana organ otak merespon berbagai impuls jaringan syaraf. Tempat,
dimana niat dan pikiran kotor diproses. Tetapi pula adalah bahagian
tubuh yang melahirkan ide-ide cerdas, mencipta berbagai karya, alas
pikir intelektual, serta pengontrol semua gerak tubuh. Diakhir, kakipun
mendapat bagian tersucikan. Langkah ini, tak lagi boleh bimbang. Tegak
kita harus melangkah, mantap menuju tujuan. Melangkahlah ke jalan Allah,
sebagai jihad yang sesungguhnya. Bukan bom yang harus diledakkan untuk
membunuh sesama manusia, membunuh ciptaan Allah yang walaupun bersalah
tidak harus membunuhnya dengan keji.
“….”Hayya’alal sholah”….”Hayya’alal
falah”….”
Mari dirikan shalat, mari menuju kemenangan….
Semua dari kita butuh keseimbangan……,
Karena Aku adalah bahagian dari kita sebagai manusia, Kuingin khusyu
berkontenplasi dalam shalatku. Shalat yang sesungguhnya adalah gambaran
gerak rakaat kehidupan. Berdiri, rukuk, sujud, duduk adalah sebuah
gambaran laku hidup manusia akan penghormatan, ketundukan dan
keberserahan diri kepada Sang Maha Pengatur. Salam dengan menoleh ke
kiri dan ke kanan sesungguhnya untuk menitip doa selamat pada sesama
demi mencapai keseimbangan diri sebagai makhluk sosial. Lengkaplah kini
saya seolah seperti ustad dengan ceramahnya yang panjang lebar dan
membosankan. Ceramah yang itu-itu saja, tidak aktual, retorika yang
payah, tidak mengikuti alur zaman dan mebuatku terkadang pura-pura
tunduk di masjid, padahal tertidur.
Aha, Eurekha ! Kini ide itu muncul, untuk menulis. Bahkan setelah
tulisanku pun hampir rampung dengan keluh kesah dan ceramah yang tak
berbobot sebelumnya. Pertanyaan yang tadi mengganggu, adalah apa yang
salah pada diriku dan apa yang harus dirasionalisasi. Yang salah, karena
aku menyalahkan lingkunganku termasuk lingkup dalam diriku. yang harus
dirasionalisasi ataupun dijadikan alas an pembenar itu tidak ada. Tidak
perlu, karena rasionalisasi bukan logika, tak memiliki runtut nalar yang
benar. Tak perlu menyalahkan diri, namun yang benar adalah mengaku
salah. Tak perlu membela diri (rasionalisasi), tetapi yang perlu adalah
teguh pada kebenaran. Mengaku adalah sportif, tapi menyalahkan diri,
justru mencipta keterasingan dan percaya diri pun rontok. (Kok, jadi
rumit begini yah. He !?)
Dulu kutemukan seorang sederhana yang kini menjadi sahabatku.
Nasehatnya, sampai kini kujadikan solusi. Mungkin nasehat itu telah
diarsipkan rapi dalam memoriku, sehingga aku tak bisa melupakannya.
“Kesulitan ataupun masalah itu hanya ada di kepala. Kerjakan, lakukan,
dan buat menjadi tindakan nyata, maka itu akan menjadi mudah.” Selalu
kubuktikan bahwa itu benar adanya. Kerjakan, kerjakan dan kerjakan.
Membiarkan beban itu menumpuk di kepala, akan membuat diri ini memproses
sebuah mekanisme pembelaan diri, pengabaian, keterasingan dan akan
menjadi kesan trauma yang panjang.
“Jika engkau mengalami kebuntuan, maka shalat lah, bakalan kau temukan
jalan setelahnya” pesan ini tidak rasional bagiku dulu yang menganggap
shalat adalah pelarian. Sebuah gerakan yang tak lebih hanya ritual
syariat belaka, kewajiban yang diharuskan bagi muslim, tapi bagiku
justru adalah beban. Ini tidak terbukti, karena berangkat dari
rasionalisasi yang sesat. Shalat dengan rangkain syariat gerakan,
diselah oleh tuma’nina dan terpusat hanya untuk menghadapkan diri ke
Sang Pencipta akan membawa kepasrahan dan ke-berberserahan diri yang
membebaskan. Membebaskan diri ini dari apapun pikiran duniawi yang
mengekang, sekaligus menyerahkan diri untuk dilindungi hanya kepada yang
Maha Pelindung. Shalat memberi ketenangan, mencipta kesejukan serta ada
damai di hati bagi siapapun yang mendirikannya dengan benar. Shalat
adalah kebutuhan, tidak sekedar hanya kewajiban.
Inspirasi memang muncul dimana saja. Inspirasi bagiku adalah pelatuk
untuk memicu ide itu berhamburan menjadi karya. Masalah adalah
inspirasi, solusi adalah jalan keluar dan doa adalah perangkai usaha
menuju harapan. Doa bagiku tidak hanya perlakuan gerak yang menegadahkan
tangan seperti pengemis, tidak sekedar bacaan komat-kamit seperti dukun
yang bermantra, dan tentu bukan hanya lafalz bahasa Arab yang tak
dimengerti artinya, apalagi maknanya. Harapan adalah Doa itu sendiri,
lafalznya adalah bunyi yang menandakan kesungguhan berharap.
Menulis adalah penerjemah inspirasi menjadi uraian kata. Menulis cukup
dengan menguatkan niat untuk membagikan manfaat kepada orang lain,
berbagi cerita, meng-abadikan kisah. Mualilah menulis, dan huruf awal
pun akan menuntun kita menuju kata, kalimat dan terangkailah paragraph
demi paragraph. Kumulai ini dengan rasa bimbang, beban pikiran yang
menumpuk, lalu kemudian segera aku mendirikan shalat. Tentu semua orang
ingin lepas dari resahnya, melunakkan pikiran menjadi sederhana, memecah
kebuntuan dan kemudian, bahasapun harus dijinakkan agar kita mampu
berkomunikasi dengan diri, mengapresiasi ide menjadi rangkaian tulisan
untuk sedikit melepas beban yang sumpek dibenak kita. Lahirlah tulisan
yang aku sendiri bingung menentukan judulnya ini. Nyerocos sih….. :D
*) DITULIS KARENA SEORANG SAHABAT MENGUTARAKAN MASALAHNYA PADAKU TADI SORE.
TIDAK AKU TEMUKAN SOLUSI PELIK MASALAHNYA, AKU CUMA MENDENGAR UNTUK
MENYENANGKANNYA. KUTULIS USAI SHALAT MAGRIBKU, KELAR MENJELANG IQAMAT
ISYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar