
Foto: Spesial
Ting. Ting. Ting.
Putaran sendok searah jarum jam mengitari diameter cangkir, sesekali
beradu. Mengingatkan aku pada sesuatu yang kini sudah larut. Semua rasa
ini, sayang, rindu, marah, benci, semuanya teraduk setelah kamu pergi.
Ketika senja menjelang, aku sering melangkahkan kaki, melewati
jalan-jalan yang biasa kita lalui. Kadang sejenak aku tertahan,
terhenti, begitu terasa kenangan yang tak terbantahkan, tentang kamu
yang tiada lagi.
Kepalaku sering tertunduk mengamati. Mata ini begitu penasaran ke
mana kaki ini akan pergi. Persimpangan pertama sudah terlewati. Itu
tempat kita pertama perkenalkan diri. Sudah, itu bisa kubahas nanti.
Persimpangan kedua terlewatkan. Di sana kita biasa berbisik pelan.
Mengamati setiap orang di sisi jalan. Gelak tawa meledak tak tertahan.
Aku tak tahan melewatkan persimpangan yang ketiga. Tempat itu kerap
kita jadikan merajut asa. Yang katanya, hidup selalu bersama. Ya, hampir
selamanya.
Langkah kaki akhirnya terhenti di depan sebuah kedai kopi. Aku masuk tergoda wangi. “Di sini,” gumam sang hati.
Aku memutuskan menunggumu di sini bertemankan kopi, secarik kertas,
dan pena, seraya menuliskan segurat kisah yang hampir sempurna. Tentang
kita.
Tanpa kamu memesannya, aku setia menyajikan ceruk cangkir sepi berisi rindu yang masih hangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar